MULAI DARI ‘A’

menulislah, maka gagasanmu abadi

Cari Saku Tambahan Siswa Jualan Pakaian

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

DEMI mencari uang saku tambahan siswa SMK Tarcisius rela berjualan pakaian bekas. Minggu pagi (14/6) siswa menjajakan pakaian layak pakai dijantung pusat kota semarang.

Matahari mulai terik hiruk pikuk keramaian Simpang Lima masih tetap terasa, kondisi tanah yang becek karena hujan semalam tak mengurangi minat para pengunjungnya untuk menginjakan kakinya ditengah-tengah lapangan. Simpang Lima yang berada di jantung kota Semarang menjadi magnet tersendiri bagi warga Semarang dan warga di sekitar Semarang. Selain sebagai tempat untuk berbelanja atau hanya sekedar jalan-jalan, tepat itu juga bisa dijadikan sarana alternatif hiburan keluarga.

Berbagai jenis barang maupun makan tersedia di Simpang Lima, tak terkecuali barang-barang bekas mulai dari kaset hingga pakai bekas dijual di tempat itu. Bila kita  menyebut pakian bekas maka Simpang Lima surganya pakaian bekas, hampir semua di bagian tengah lapangan Pancasila adalah para pedagang pakaian bekas, baik pakaian bekas dalam maupun pakaian bekas dari luar negeri luar ada ditempat itu. Harga yang dipatok pedagang pun sangat terjangkau mulai dari harga Rp 1000,00 sampai Rp 20.000,00-an, tergantung kondisi barangnya.

Berdagang pakaian bekas tak semuanya dilakukan seorang yang berprofesi sebagai pedagang, hal ini yang dilakukan oleh para siswa SMK Tarcisius. Untuk menambah uang saku ke Pulau Bali mereka rela bangun pagi hanya untuk menjajakan pakaian bekas di Simpang Lima. Menurut kordinatot penjualan, Wahyu (17) menjelaskan, hasil dari penjualan pakaian semuanya akan masuk dalam kas kelas, sebenarnya untuk biaya ongkos perjalanan ke Bali sudah pada lunas, berjualan hanya untuk tambahan uang saku. Dia mengaku mulai berjualan dari pukul 04.00 WIB, untuk mempersiapkan tempat dan barang-barang yang akan mereka jual. Harga perpotong pakaian tidak telalu mahal, pakaian-pakaian yang dijual di bandrol mulai dari Rp 1000,00-5000,00 perpotong tergantung kondisi barang, “Pakaian-pakaian ini kami dapat dari hasil sumbangan atau hibah dari para guru dan teman-teman, tidak menutup kemungkinan sumbangan dari pihak luar sekolah” jelasnya.

Sudah hampir satu bulan ini , siswa kelas XI AK3 setiap minggu pagi berjualan pakaian layak pakai di Simpang lima, hanya minggu kemarin (7/6) kami libur jualan karena lapangan digunakan acara Satpol PP tutur Deni (17) satu-satunya siswa laki-laki di kelas XI AK3 SMK Tarcisius yang beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso No 49 Semarang.

Sementara itu, Vera (16) salah satu siswa yang turut menjaga barang dagangan mengaku dari hasil jualan pada hari itu mendapat omzet yang lumayan. Dengan menjajakan dan menawarkan pada pembeli Rp 80.000,00 mereka dapatkan dari pagi hingga panas mulai terasa, “Ini salah satu dari usaha kami untuk mendapatkan uang saku tambahan, tanpa harus membebani orang tua”. Selain berjualan ada cara lagi untuk dapat menambah pemasukan uang kas yaitu mengamen, biasa dilakukan oleh teman-teman yang tidak dapat jatah menunggui barang dagangan, imbuhnya.

Berbagai macam cara dilakukan untuk mendapatkan uang, hal inilah yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK Tarcisius yang kreatif dan ulet untuk mencari uang tambahan. Sejauh ini usaha yang dilakukan siswa-siswa tersebut berjalan lancar dan tanpa ada hambatan yang berarti. (Cahyo Indarto)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Berjuang Dengan Sepeda Ontel

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

MUNAWAR, seorang penjual lekker di pasar minggu Simpang Lima. Setiap hari minggu dengan sepedanya, jam 05.00 pagi ia mulai berangkat berjualan di pasar pagi simpanglima dari rumahnya di Kampung Tiber. ”Kalau nggak berangkat pagi – pagi nanti kesiangan. Kalo siang sudah tidak bisa masuk, jadi saya berangkat dari rumah jam 05.00, nanti sampai sini sekitar jam 05.15.” jelas Munawar.

Dia menyatakan, setiap hari minggu saja dia berjualan lekker di simpanglima. Dan hari biasa, dia biasanya berjualan di SD dan SMP. Jika jualan belum habis, dia berkeliling di kampung – kampung menjual lekker sampai menuju kerumahnya.”Hari minggu thok saya jualan disini, kalau hari biasa senin sampai sabtu ya saya jualan di SD – SD dan SMP 3 yang di kampung kali itu,” kata bapak lima anak itu.

Untuk urusan harga, harga lekker pak Munawar sangatlah murah. Hanya dengan Rp 500,00 saja kita sudah dapat satu lekker yang biasa. Tapi jika ingin lekker yang komplit atau lekker dengan telor cukup dengan membayar Rp 2.500,00 saja. Yang pasti murah dan lezat. ”Enak lekkernya dan murah lagi. Ini saya beli tiga lekker Cuma bayar Rp 3.000,00,” kata Dewi, salah seorang pembeli.

Terlihat jualan Pak Munawar paling banyak diburu pembeli dari pembeli anak – anak sampai orang dewasa. Mereka rela antri untuk mendapatkan lekker buatan Pak Munawar. ”Saya ikut – ikutan beli disini, dari tadi udah muter – muter dan sini yang paling rame. Jadi ikut beli disini aja. Lekkernya juga enak dan renyah kok,” kata Vini, seorang pembeli.

Penghasilan yang dia dapat tiap harinya dari jualan lekker sekitar Rp. 100.000,00. Penghasilan itu pun nantinya akan dipakai untuk belanja bahan – bahan jualan untuk besok dan sisanya ditabung untuk sekolah anaknya.

Mengadu Nasib

Karena ingin berhasil, Pak Munawar sepuluh tahun yang lalu meninggalkan kampungnya di Jepara untuk mengad nasib di Semarang.

Yang jelas, karena tekad dan keinginannya itu, kini dia dapat menghidupi keluarganya. Dia dapat menyekolahkan anak – anaknya dan menghidupi istrinya.

Dengan tekad dan keinginannya itu pula, dia bisa membuatkan warung untuk istrinya untuk berjualan sembako. Dengan istrinya berjualan sembako, hasilnya digunakan untuk menambah penghasilan. ”Alhamdulillah, dari saya jualan lekker saya bisa menyekolahkan anak – anak saya. Anak saya yang paling besar sudah SMA yang kecil belum sekolah. Dengan saya jualan lekker saya juga bisa membuatkan warung di rumah untuk istri saya berjualan,” ucap pencinta musik dangdut itu. (Rina Sari M)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Mengais Rezeki di Simpang 5

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

LELAKI tua itu terus membereskan ”Hulahop” dagangannya. Mainan tradisional yang dulu gemar dimainkan oleh anak-anak seusia jamannya, menjadi trend anak muda sekarang ini. Sesekali ia menyeka keringat di dahi yang mengucur dengan tangan kanannya yang hitam legam. Kemudian ia duduk dan menunggu pembeli datang. Pagi itu, hari Minggu (07/06/09), simpang lima tempat ia menjajakan dagangannya tampak sepi pembeli. Begitu banyak orang berlalu lalang di badan jalan simpang lima, namun tak ada satupun orang yang memperhatikan lelaki tua ini. Hulahop yang menjadi andalan untuk mengais rezeki tak mengurungkan niatnya, meskipun tak banyak ia dapatkan rupiah dari orang-orang ini.

“Hari Minggu begini memang sepi. Siang pun masih tetap sepi,” ujarnya dalam bahasa Sunda yang sangat kental sambil duduk di bawah tiang lampu taman dan kemudian mengambil bekal sebotol minum air putih yang ia bawa dalam kantong plastik.

Aku hanya mengangguk saja. Dalam diam aku melihat ”Hulahop” dagangannya. Ukuran besar, sedang, dan kecil berjejeran di atas plastik biru berukuran setengah meter. Semuanya ia bawa, berharap nanti akan ada yang tertarik untuk membeli.

“Abdul Wahab,” jawab lelaki itu ketika kutanyakan namanya. Sambil tersenyum ramah, ia menjelaskan asal usulnya. Empat puluh enam tahun silam ia lahir di desa Cangkol kecamatan Lemah Wungkuk, Cirebon  dan tinggal di sana bersama istri dan anak.

Kerutan di wajah, gigi-geligi yang telah tanggal, uban yang telah tumbuh menutupi batok kepala ditutupi sebuah topi, dan tubuh yang semakin ringkih membuktikan bahwa usianya tidak muda lagi. “Saya telah jualan ’hulahop’ sejak dua tahun yang lalu, semenjak saya tidak lagi bekerja di pasar sebagai penjual sayur. Waktu itu saya bekerja bersama istri di pasar,” Pak Abdul memulai kisahnya sebagai pedagang sayur, “setelah itu saya memutuskan untuk pindah ke sini. Sedangkan istri tetap di Cangkol.”

Bapak dari lima orang anak itu bekerja menjadi tulang punggung keluarga mencari nafkah, menghidupi kelima anaknya dan istri yang sangat ia cintai. “Dulu waktu saya mulai jualan sayur di sana, saya senang ditemani istri, saya yang menawarkan kepada pembeli, dan istri yang melayani pembeli. Saya senang bersama istri mencari nafkah,” jelasnya, “Sengaja saya pindah ke sini karena di Cangkol sudah banyak penjual sayur yang lain. Setahun yang lalu, setelah rumah kami selesai dibangun di Cangkol ecamatan Lemah Wungkuk, saya menyuruh istri saya untuk di rumah saja. Biar saya saja yang mencari rezeki. Biar istri yang merawat anak-anak di rumah”, tandasnya.

Kehadiran Abdul Wahab yang berprofesi sebagai penjual ”hulahop” di trotoar jalan Simpang Lima memang sangat kontras dibandingkan dengan kondisi sekitar, sehingga menjadi pusat perhatian pengguna jalan. Betapa tidak, di tengah maraknya para peminta-minta yang memadati kawasan Simpang Lima dan semakin merajalelanya kapitalisme yang tampak jelas dari bangunan-bangunan yang lebih “wah” dibandingkan bangun-bangunan lain dengan menawarkan berbagai macam jenis makanan cepat saji, namun lelaki itu tetap saja mencoba bertahan dengan ’hulahop’ nya.

Matahari semakin terik pagi itu. Jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Itu artinya sudah dua setengah jam lebih Abdul Wahab menjajakan dagangannya. Namun, baru lima pembeli yang nongol dan itupun masih menawar dengan harga rendah. ”Tak apalah jika uang yang saya dapatkan, baru segini. Uang ini akan saya tabung untuk anak dan istri di sana dan sisanya untuk makan sehari.

Setelah selesai shalat subuh lelaki paruh baya dengan peci hitam yang melekat di kepala itu telah beranjak dari rumah kontrakannya menuju Simpang Lima. Ia harus menghabiskan waktu selama satu jam lebih untuk untuk sampai ke tujuan dengan menggunakan labi-labi.

“Biasanya berapa banyak ’Hulahop’ yang terjual sehari Pak?” aku kembali bertanya.

Lagi-lagi ia tersenyum sambil memamerkan gusinya yang tak lagi bergeligi. “Ya gak tentu dik, jual kayak gini itu kan gak semua orang suka. Kadang sehari pernah gak ada yang beli sama sekali. Jadi bukan untung, saya malah bingung!” jawabnya tetap tersenyum.

“Tapi, tiap hari saya pasti akan muter-muter dari satu rumah ke rumah, seperti di gang Pecinan menawarkan barang dagangan saya ini. Bahkan pernah sehari sampai seratus ribu,” jelas lelaki dengan postur tubuh agak sedikit pendek itu seolah mengetahui keherananku. Untuk ’Hulahop’ ukuran kecil, saya jual dengan harga Rp. 5.000, sedang Rp. 7.000, dan yang ukuran besar Rp. 10. 000. Melihat dagangan yang ia jual, pastinya orang-orang lebih memilih untuk membeli makanan yang lebih lengkap dan barang-barang pilihan lainnya yang lebih berguna dibanding membeli hulahop. Namun, semangatnya yang membara membuat orang tak segan-segan untuk mampir menawar hulahop, meskipun hanya sekadar lewat dan bertanya. “Saya penasaran, makanya saya mampir bentar,” ucap Ade, seorang mahasiswa ketika kutanyakan alasannya. ”Saya beli satu Pak, yang ukuran sedang saja!” katanya bersemangat.

“Saya udah tua, Nak! Mau bekerja yang lain sudah tidak sanggup lagi. Dari pada hanya diam di rumah, mending saya mencari rezeki di sini. Yang jelas saya tidak mau mengemis. Setidaknya lelaki tua yang berjualan itu telah berusaha untuk mencari rezeki. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?

“Pergilah ke jalan yang lurus, Nak!” pesannya kepadaku ketika aku berpamitan. (Dewi Sri Warni)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Minggu Pagi di Simpang Lima

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

tugasakhir-dian-ratna-sariMATAHARI telah mulai menampakkan sinarnya.. Menghangatkan lapangan Simpang Lima yang telah dipenuhi anak manusia. Dinginnya pagi hampir tak terasa membelai tubuh dikarenakan terlalu banyaknya manusia yang mengunjungi Simpang Lima di pagi itu.

Dengan langkah yang mantap, seorang ibu yang tengah menggondong putrinya sedang asyik nemilih pakaian dalam wanita. Dia terlihat bingung memilih barang mana yang akan dia beli. Sedangkan anaknya yang berusia tiga tahun digendongannya hanya terdiam melihat ibunya sedang memillih barang. Akhirnya ada dua pakaian dalam yang dibelinya. Sebelumnya ibu Rina memang meluangkan waktunya untuk membeli barang-barang yang dia inginkan terutama yang sekarang telah dibelinya. Menurutnya harga di pasar pagi simpang lima memang murah-murah. Sehingga ibu yang baru dikaruniani satu otang putri ini lebih memilih berjejal-jejalan dengan orang lain untuk mendapatkan barang yang murah. Bukan hanya murah, tetapi barang yang terdapat di pasar pagi ini cukup bervariasi, dalam artian tidak hanya terdapat satu barang saja. Pembeli seperti Ibu Rina ini bebas memilih barang yang dia inginkan. Tidak hanya satu model saja.

Pagi itu, Minggu 7 Juni 2009 sekitar pukul 06.00 WIB memang sudah banyak orang mendatangi Simpang Lima yang pada saat hari minggu dijadikan sebuah pasar dadakan. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, pada minggu pagi itu banyak penjual dan pembeli yang berada di simpang lima. Dari  yang tua hingga yang muda campur aduk memilih barang yang ingin dibelinya atau hanya sekedar jalan-jalan menikmati ramainya pagi hari di simpang lima.

Tidak hanya di tengah lapangan saja yang dijadikan sentra penjualan. Di bagian pinggir lapangan pun juga dijadikan area berjualan para pedagang. Penjual yang tidak mempunyai tempat berjualan di pinggir lapangan, dapat berjualan di tengah lapangan. Banyak dagangan yang dijajarkan di simpang lima. Ada baju, tas, sepatu, kacamata, sandal, kaset, mainan anak-anak, aksesoris, bahkan ada juga penjual makanan.

Pedagangnya pun juga bervariasi. Tidak hanya dari kalangan tua saja melainkan dari kaum muda Semuanya ada di pasar murah ini. Ramainya suara penjual yang menjajakan dagangannya semakin membuat semarak lapangan Simpang Lima ini.

Selain semarak, nuansa kekerabatan juga tampak di antara para penjual. Mulyono, seorang penjual kacamata juga sangat terlihat akrab dengan penjual aksesoris yang ada disebelahnya. Lelaki paruh baya ini memang terlihat ramah. Disela-sela kesibukannya berjualan, ketika tidak ada pembeli menghampirinya, dia sempatkan berbincang-bincang dengan Udin, penjual yang ada disebelahnya.  Masalah sepinya pembeli yang membeli dagangan mereka menjadi salah satu topik perbincangan mereka. Di Minggu pagi itu. Memang tidak setiap saat dagangan mereka laris. Ada masa-masa ketika dagangan mereka tidak terlalu laris. Terutama Pak Mulyono. Dengan apa dia akan membiayai anaknya sekolah jika dagangannya tidak laku. Karena hanya berdagang inilah mata pencaharian Pak Mulyono. Kacamata yang dia jual sekitar harga 10 ribu hingga 25 ribu dirasa masih kurang mencukupi kebutuhan hidupnya. Keuntungan yang dia ambil pun tidak terlalu banyak dari hasil berjualan tersebut. apalagi berdagang di Smpang Lima masih ditarik retribusi sebesar Rp. 2.000,00.

Tetapi memang rejeki tidak kemana. Laki-laki muda yang bernama Agus bersama pacarnya Nita mendatangi dagangan Pak Mulyono. Mereka memilih kacamata dengan asyiknya.. Sambil dicoba-coba. Beberapa waktu kemudian sang lelaki membayar kacamata yang diambilnya. Semula Agus memang tidak ingin membeli kacamata, tetapi ketika berjalan dan melihat kacamata dagangan Pak Mul, Agus menjadi tertarik membeli karena model-model kecamata yang dijual cukup bagus.

Baru satu pembeli yang membeli dagangan Pak Mul. Tetapi lelaki tua tersebut cukup bersyukur pada Tuhan. “Satu pembeli nggo penglaris,” papar Pak Mulyono.

Tidak terasa matahari semakin panas. Pukul 09.30 WIB sudah banyak pedagang yang mulai memberesi dagangannya. Para pembeli pun juga sudah mulai berkurang. Pasar pagi memang hanya dibuka sampai pukul 10.00 WIB. Jadi pada waktu itu para pedagang harus pergi dari Simpang Lima. Petugas Satpol PP pun bersiap menertibkan mereka. (Dian Ratna Sari)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Uang Kuno, antara Seni dan Komersialisasi

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

SENJA baru saja selesai menampakkan wajahnya, malam tiba menjelang. Suasana kos-kosan di sekitar daerah komplek Singosari, Semarang masih sepi. Hanya lampu-lampu jalan secara bergantian menyala dan menerangi jalan-jalan kecil di sekitarnya. Warung-warung pinggiran mulai melebarkan tendanya. Udara dingin masih menyergap, suasana setelah hujan masih terasa di sana. Jalanan agak sedikit becek diguyur hujan sore hari.

Malam 23 Mei yang mengesankan. Malam minggu pertama, yang saya habiskan di kawasan Simpang Lima, Semarang.  Bersama sahabat lama, Otit. Dia seorang mahasiswa Sastra Indonesia, Undip. Sengaja saya menginap sehari di kosnya. Selain bertemu kangen, saya juga memanfaatkan momen tersebut untuk mengerjakan tugas kuliah, jurnalistik.

Kami pun berjalan menuju Simpang Lima. Saya dan Otit masih berjalan dan melihat-lihat . Saya sendiri masih ingin menikmati malam ini tanpa memikirkan tugas utamaku, mencari sebuah pedagang untuk aku wawancari, meminta  foto dan selesai. Dugaan saya meleset, tak semudah itu  mencari topik yang tepat untuk tugas akhirku. Mulai dari datang hingga akhir saya hanya berputar-putar dan menikmati pesona awul-awul malam hari.

Saya lelah, setelah setengah jam saya habiskan hanya untuk berputar-putar saja. Saya dan sahabat saya akhirnya duduk di sebuah warung pinggir jalan. Saya  hanya memesan teh botol. Saya tahu makan di sini semalam, sama dengan makan saya  selama dua hari di kos-kosan. Saya duduk begitu saja di sebuah tikar berwarna orange. Di sebelah warung yang saya kunjungi terdapat seorang bapak-bapak  berjualan  mata uang kuno.

“ Pak yang ini berapa?”seorang pemuda mencoba bertanya harga selembar uang  kertas dari Singapura.

“Yang itu Rp 25.000 dua”

“Wah dua puluh ya pak?”

“Ya sudahlah dua puluh buat kamu”

Pemuda bernama Anang ini tersenyum dan mulai mengeluarkan uang sepuluh ribuan dua lembar. Pemuda yang mengenakan kaos berwarna merah ini mengaku membeli uang kuno hanya untuk sekadar koleksi saja. Tetapi ia bukan jenis kolektor yang sudah maniak, ia baru-baru saja mengkoleksi dan suka terhadap mata uang kuno ini.

“Uang mahar, uang mahar….!!” Bapak itu meneruskan menjajakan barang dagangannya.

Saya mengamati dengan seksama. Tangan bapak itu cekatan membersihkan beberapa koin kunonya. Alat yang dia gunakan untuk membersihkan adalah semacam batu hijau, hampir mirip seperti batu giok yang dicelupkan dengan minyak tanah,kemudian di usap dengan kain berwarna biru, dalam sekejap koin kusam menjadi bersih dan layak jual.

Saya pun tertarik untuk mengetahui berbagai hal tentang bapak dan uang kunonya.. Di depanya terhampar berbagai jenis uang kuno, baik koin maupun uang kertas. Semuannya tertata rapi. Beberapa uang kertas dibungkus dengan plastik transparan. Uang-uang koin ditempatkan tersendiri di sebuah kotak kayu.

Adalah Abdul Basyir, sang pemilik berbagai uang kuno. Malam itu lelaki tiga perempat abad ini mengenakan kemeja warna hitam dengan aksen merah di kanan dan kiri bahunya, bertopi hitam. Ternyata lelaki ini sudah menjual mata uang  kuno kurang lebih sepuluh tahunan. Profesinya ini bukanlah suatu keinginan, dahulu ia pernah bekerja sebagai penjahit jas dan pembuat topi.

Usia yang sudah tidak dapat dibilang muda ini membuatnya kehilangan kemampuan untuk membuat jas dan topi dengan teliti. Sementara istri dan anak-anaknya membutuhkan uang untuk makan sehari-hari. Dengan terpaksa Pak Basyir menjual seluruh koleksi mata uangnya, hingga sekarang.

“Ya berat Mbak, sayang buat dijual, ya mau gimana lagi?” lanjutnya saat ditanya perasaan bapak saat itu.

Awalnya Pak Basyir begitu panggilan akrabnya, hanya mengkoleksi uang kuno yang dimilikinya sebagai hobi belaka. Menurutnya mengkoleksi mata uang kuno adalah sebuah hobi yang berkaitan dengan nilai seni suatu benda. Semakin tua mata uang yang ia koleksi maka semakin tinggi nilai seninya.

Uang kuno yang didapatkanya dari koleksi sendiri, selain itu Pak Basyir juga sering barter dengan para kolektor-kolektor yang lain. Kebanyakan kolektor yang ia jumpai adalah para keturunan Tionghoa. Mereka berani membayar tinggi untuk mata uang kuno yang diinginkannya. Bahkan Pak Basyir ini juga mengikuti perkumpulan dengan kolektor-kolektor mata uang kuno, sebulan sekali. Dimana letaknya, Bapak ini enggan menyebutkannya.

“Bisa banyak Pak?” tanya seorang perempuan berbaju putih bernama Alien, di dampingi seorang lelaki. Tionghoa.

Pak Basyir menunjukkan beberapa uang kertas, yang biasa di pesan. Terjadi tawar menawar harga di sana. Setelah terjadi persetujuan harga, sang pembeli memutuskan beberapa mata uang yang akan di pesannya. Alien ,pembeli tersebut memesan untuk uang mahar perkawinannya.

“Ya sudah pak, yang tadi jadi ya, yang koin 50, yang kertas  25 lembar. Besok saya ke sini lagi” lelaki tersebut membuat perjanjian dengan Pak Basyir.Pak Basyir meneruskan pekerjaannya, sambil menawarkan dagangannya.

Pada hari-hari biasa, lelaki tua ini berjualan di depan masjid Baiturrahman. Banyak para kolektor-kolektor memburunya. Bahkan mencari mata uang yang langka, dan semakin tua. Harganya dapat berkisar puluhan ribu hingga jutaan, tergantung dengan tahun dan asal uang tersebut. Bagi sebagian pembeli, mata uang yang dijualnya dapat dijadikan mahar perkawinan.

Teh  dalam botol yang kami minum pun habis. Bercakap-cakap dengan Pak Basyir telah membuat kami lupa , jam sudah menunjukkan pukul 21:30, saatnya kami mengakhiri percakapan malam dengan bapak penjual mata uang kuno itu. Setelah mengucap salam dan berjabat tangan, kami pulang. Hujan menyambut kami lagi di tengah perjalanan pulang. (Etika Puspasari)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Piawai Menawar di pasar Tiban Simpang Lima

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

DI pagi buta, alun-alun Simpang Lima dibanjiri berjuta-juta masa, orang tumpah ruah memadatinya. Mereka singgah hanya untuk berbelanja di pasar Tiban ini.

Di pasar tiban Simpang Lima aneka barang  disajikan dari mulai pakaian, sandal, meja belajar, jajanan pasar, kue-kue macam brownis, tempura, warung makan lesehan, buah-buahan, buku bekas, obat-obatan tradisonal, bumbu-bumbu masak, poster-poster artis, barang-barang antik,  hingga penjual racun tikus pun ada. Mungkin jumlahnya lebih dari seratus pedagang.

Ibu Ida (29), ibu rumah tangga yang datang ke pasar murah Simpang Lima, sekitar pukul 06.00 Minggu (28/6) dan berada 4 jam di lokasi. Ia berbelanja didampingi Bapak Dikin, suaminya (31) dan Indah, anaknya (2).

Ibu Ida memulai acara belanjanya dari penjual kalung ukiran nama, depan masjid Agung Baiturrahman. Ia membeli kalung perak seharga Rp 25 ribu, tak lupa mencantumkan ukiran nama anak semata wayangnya. Ia juga membeli rok untuk dirinya, seharga Rp 20 ribu, mainan anak seharga seribu, ikat pinggang seharga Rp 7 ribu.

Harga barang yang ditawarkan acapkali mengejutkan pembeli, terkecuali harga yang sudah dikatrol tertulis di papan kardus. Hal ini dikatakan oleh Pak Dikin (31), “ Penjual cari orang bodoh, Mba, moso sabuk mbo diregoni selawe ewu (25 ribu), untungnya istri saya pintar nawar, jadi 7 ribu rupiah dikasihkan.”, tutur suami Ibu Ida.

Ibu Ida meceritakan sedikit pengalamannya, “ Dulu saya beli celana, penjual buka harga 100 ribu, saya tawar 70 ribu, penjual langsung ngasih, eh ternyata nggak lama saya melangkah, orang nawar 40 ribu, dikasihkan, jadi sekarang saya lebih jeli.”, serampung Ibu Ida bercerita.

Pengunjung lain pun sependapat, “ Kita perlu nawar, Mba, kalo nggak kita bisa tertipu dengan permainan harga tinggi.”, tutur Chaca salah satu pengunjung yang turut belanja di pasar Tiban Simpang Lima.

Tidak ada kesepakatan harga antarpenjual, mereka bebas menjual barang dagangannya dengan harga berapapun, asalkan pembeli menyepakatinya.

“Terserah penjual mau ngasih harga berapa, Saya menjual 1 porsi Rp 12 ribu, tapi ada juga penjual lain yang memberi harga Rp 9 ribu per porsinya, tutur Pak Giono (50) penjual sate ayam asal Solo ini.

Meski harga sate Pak Giono terbilang mahal di antara penjual sate lainnya, tetapi dagangan laris terjual hingga 800 tusuk sate, untuk hari biasa Pak Giono hanya bisa menjual 200 tusuk per harinya.

“ Aku dodolan ning pasar tiban iki, entuk untung empat kali lipat’e, Mba, soalnya di sini banyak mangsany, lagipula jualan saya menang rasa.”, tutur Pak Giono.

Sebagian besar penjual mampu meraup keuntungan yang lumayan besar, tidak hanya Pak Giono mungkin banyak penjual lain yang bernasib munjur seperti Pak Giono, namun nasib Pak Saeful (38) tidak seperti Pak Giono, seorang penjual pakaian yang memperoleh keuntungan tipis.

“Yo mau nggak mau kita harus pasang harga tinggi, tapi pembeli sekarang crewet-crewet, jadi daripada nggak laku, yo tak kasihkan, Mba,  meski untungnya mepet.”, tutur Pak Saeful dengan wajah melasnya.

Di mana-mana rasanya memang sudah tak aneh jika kaum ibu piawai dalam menawar, termasuk Ibu Ida, menawar barang yang akan dibeli. Akan tetapi, jangan menawar yang berlebihan Kita bahagia sejenak karena harganya jadi turun, tapi sangat tidak demikian buat pedagang.

Ada juga pembeli yang terkadang pikir-pikir kalau nawar. “ Aku nggak tega ik, Mba, buat nawar, kasihan.”, tutur Anggun yang turut membeli mainan anak-anak pada penjual yang sudah separuh baya.

Bagi pedagang kecil, setiap rupiah yang kita “korting” adalah penurunan pendapatan yang bisa jadi cukup besar pengaruhnya buat mereka. Rp 500 atau Rp 1000 itulah keuntungan mereka, karena sebelum barang dagangannya habis, mereka sesungguhnya belum bisa melihat apakah kegiatan perniagaan mereka menguntungkan ataukah tidak. Apalagi jika kalkulasinya ditambah dengan ongkos cape di bawah terik matahari yang menyengat, berkilo-kilo jauhnya, apakah itu cukup sepadan harga yang mereka berikan buat konsumen? (Risma Astria Bundy Hindawati)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Budayakan Makanan Khas Kota Semarang

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

tugasakhir-dwi-anggoroRIUH rendah kemeriahan Pasar Pagi Simpang Lima belum begitu terasa pagi itu, Minggu 24 Mei 2009. Hari masih pagi, jam baru menunjukkan pukul 05.00. Udara pagi masih dingin. Mentari belum sempurna tebarkan sinarnya. Pengunjung pun belum begitu banyak. Akan tetapi lapangan sudah penuh dengan pedagang. Tyas, salah seorang pedagang di pasar tersebut mulai menggelar dagangannya. Bersama ibunya, gadis yang masih duduk di bangku kelas IX SMA ini menata rapi dagangannya. Jarak rumah yang agak jauh, membuatnya berangkat lebih pagi. Sayang, karena sedikit kesiangan, dia tidak mendapatkan tempat yang strategis. Dia dan ibunya tetap semangat, yakin pasti dagangannya bisa terjual semua.

“Ndak apa-apa di sini, berdoa saja semoga dagangan kita bisa laris,” tutur sang Ibu kepada putrinya.

Menjadi salah satu pedagang di Pasar Pagi bukanlah pekerjaan tetap Tyas dan ibunya. Mereka baru dua kali berjualan pakaian bekas pantas pakai di sana. Awalnya mereka hanya iseng, daripada menganggur di rumah mereka mencoba berjualan pakaian bekas. Hasil penjualan pertama yang lumayan, membuat mereka tertarik untuk berjualan lagi. Tak kurang dari 300 ribu rupiah mereka peroleh. Pakaian-pakaian bekas yang mereka jual adalah milik keluarga sendiri yang sudah tidak dipakai lagi. Pakaian bekas tersebut dijual dengan harga bervariasi, yaitu antara 5.000 sampai 30.000 ribu.

Simpang Lima semakin panas. Matahari mulai naik semburatkan sinarnya. Makin siang pengunjung semakin banyak. Satu per satu pembeli mulai mengunjungi dagangan Tyas. Dengan ramah dia dan ibunya melayani pembeli.

“Mangga Buk, masih bagus kok. Silahkan dipilih!”bujuk Tyas sembari membolak-balikkan dagangannya.

Kebanyakan pembeli dagangannya adalah ibu-ibu. Sebagian besar dari mereka dari kalangan ekonomi bawah. Salah seorang pembeli, Mirah mengaku membeli pakaian bekas itu untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Meski bekas asalkan masih bagus dan pantas dipakai, mereka beli.

“Ya lumayan, kangge solan-salin. Menawi regine cocok, barange sae njeh dalem tumbas,” kata Bu Mirah.

Meski pakaian-pakaian yang dijual Tyas dan ibunya masih bagus, tak jarang ada sedikit yang cacat. Pembeli pakaian bekas seperti Bu Mirah biasanya harus betul-betul jeli memilih.

“Kalau mau dapat barang bagus njeh harus ngati-ati. Teledor sedikit saja kita bisa rugi,” tambahnya disela-sela memilih.

Pembeli terus berdatangan, Tyas merasa sangat senang. Dengan sabar dia melayani pembeli yang memilih barang dagangannya.

Seperi halnya di pasar-pasar tradisional lainnya, di Pasar Pagi Simpang Lima tawar-menawar antara penjual dan pembeli menjadi penambah suara kemeriahan pasar. Pembeli menawar semurah mungkin, agar bisa memperoleh barang yang akan dibeli.

Budayakan Lunpia

Melakukan kegiatan sampingan dengan menjadi pedagang di Pasar Pagi Simpanga Lima bukanlah hal yang spesial. Sudah banyak orang yang berdagang di sana untuk mengisi waktu luang atau sekadar iseng. Ada salah satu hal yang menarik dari kerumuanan para pedagang di hari itu. Tak hanya berjualan barang, tetapi ada juga yang berjualan jasa.

Di tengah-tengah lapangan, di bawah teriknya matahari yang semakin terang beberapa pemuda melayani pengunjung. Mereka adalah mahasiswa-mahasisa kebidanan di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Semarang. Menjadi pedagang di Pasar Pagi bukan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan organisasi di jurusan mereka. Akan tetapi beberepa minggu belakangan ini, mereka mengaku secara bergantian anggotanya berjualan di sana. Mereka berjualan makanan khas kota Semarang yaitu “Lunpia”. Siapa yang tidak kenal dengan panganan yang satu itu. Akan tetapi kadang-kadang masyarat Semarang sendiri tidak begitu menyukai panganan tersebut. Apalagi anak-anak yang sekarang jauh lebih suka dengan snak-snak dan makanan siap saji yang tersebar si seluruh kawasan kota Semarang. Hasil dari berjualan di Pasar Pagi mereka masukkan ke kas organisasi kampus mereka lagi.

“Silahkan Mbak, Lunpia spesial lho!” tutur Devi dari salah satu mahasiswa tersebut.

Lunpia yang mereka buat berbeda dari Lunpia kebanyakan. Mereka menggunakan isi yang bervariasi pada lunpia-lunpia tersebut. Lunpia itu berisi sayuran hijau, sosis, dan sebagainya, serta dibuat dengan bentuk yang semenarik mungkin. Rasa lunpia juga dibuat sesuai dengan selera anak-anak yang lebih menyukai panganan yang gurih.

Tidak hanya anak-anak yang membeli lunpia tersebut, tetapi orang tua juga banyak yang membeli. Salah satu pengunjung sangat menyukai lunpia itu.

“Beda banget dari lunpia lainnya, enak!” tutur Bu Nunung.

Peduli Kesehatan

Selain berjualan “Lunpia”, sebagai calon tenaga-tenaga kesehatan, tak lupa mereka menawarkan jasa yang berkaitan dengan kesehatan. Sebagai wujud kepedulian mereka terhadap kesehatan masyarakat. Mereka menawarkan jasa tensi atau pengukuran tekanan darah, uji glukosa, dan sebagainya. Tarifnya bervariasi, lebih ringan dari tarif umum di dokter maupun rumah sakit. (Dwi Anggoro)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Pesona Pasar Pagi Simpang Lima Magnet Semarang di Hari Minggu

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

tugasakhir-sri-pujihastutiMATAHARI di ufuk timur sudah menampakkan senyum tercerahnya. Lebih dari hangat, tergolong panas untuk ukuran pagi. Sisa hujan semalam sudah tidak tampak lagi. Hanya beberapa tanah di pinggir jalan yang masih agak basah. Tidak terkecuali tanah di bundaran Simpang Lima. Basah, becek, dan terdapat beberapa genangan air  di beberapa titik. Jam baru menunjukkan pukul 07.00 WIB. Simpang Lima sudah ramai sekali. Keramaian itu menyebabkan kemacetan jalan di sekitar Simpang Lima. Keramaian dan kelengkapannya menjadi undangan untuk berkunjung ke Simpang Lima pada hari libur. Dari yang punya tujuan sampai yang hanya sekadar membuat kaki pegal. Dari waktu ke waktu, pengunjungnya semakin bertambah. Menurut penjual frame yang sudah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun pun sependapat. “Sekarang sudah beda sama dulu. Tambah rame. Tambah banyak yang ke sini.”, kata Pak Muzadin, seorang penjual frame.

Pedagang, pengunjung, dan penjual jasa tumpah ruah di sana. Berbagai macam penjual dan barang dagangannya dapat ditemui di sana. Pakaian anak-anak, pakaian dalam perempuan, dan sepatu, campur aduk dengan penjual pigura, majalah bekas, termasuk penjual makanan atau tanaman. Penjual racun tikus pun ada. Simpang Lima memang berubah menjadi pasar pagi. Segala macam barang bertaburan. Dari mulai yang sepele sampai kasur busa atau kendaraan bermotor mencoba keberuntungan.

Sebelum sampai di pusat pasar pagi Simpang Lima, nikmatilah sejenak berkeliling dengan bendi wisata. Hanya dengan merogoh kocek  Rp 5.000,00 sudah dapat menikmati pesona pagi Simpang Lima. Bendi cantik nan nyaman ini akan membawa Anda berkeliling dari Simpang Lima-depan Undip-Simpang Lima. “Cuma lima ribu rupiah, sudah bisa naik bendi,seperti di desa. Anak sama istri juga jadi senang.”, kata Pak Soni, seorang pengunjung yang memanfaatkan jasa bendi wisata untuk menikmati Simpang Lima. Keberadaan bendi wisata memang begitu menarik perhatian pengunjung. Bendi wisata dapat menjadi aset wisata dan bisa dimanfaatkan sebagai alat transportasi. Hal ini sekaligus untuk menciptakan ciri khas tersendiri bagi kota Semarang khususnya pasar pagi Simpang Lima.

Simpang Lima sendiri hampir tidak tampak wujud aslinya, tertutup banjir manusia. Pedagang-pedagang pun tidak terlihat bentuknya. Yang terlihat hanya pengunjung yang berjalan-jalan. Pengunjung berjalan berkeliling di tepi bundaran. Hampir seperti orang tawaf di Makkah. Perlu sedikit perjuangan untuk menerobos gerombolan pengunjung. Setelah perjuangan itu coba nikmatilah apa yang ada di sana. Sejauh mata memandang hanya baju dan baju saja yang tertangkap mata. Dari yang teronggok di gelaran sampai yang tergantung rapi. Dari yang bekas tidak layak pakai hingga yang baru. Semua ada, tinggal dipilih yang cocok. Rata-rata hanya Rp 5.000,00 per potong. Memang tidak hanya baju, tetapi mayoritas adalah baju.

Tidak hanya baju yang dijual di sana. Beragam barang terpampang di sana. Alat tulis, perlengkapan rumah tangga, dan permainan anak-anak dijual dengan bebasnya. Penjual makanan pun tidak kalah bersaing di sana. Aneka makanan seperti nasi liwet, opor ayam, sambel goreng, pecel, soto, nasi gudeg, dan sate usus “jeroan” ada di Simpang Lima.

Birokrasi di Simpang Lima tidak sesemrawut kondisinya. Mereka juga punya paguyuban. Penjual-penjual di bundaran punya paguyuban sendiri. Penjual jasa bendi wisata juga punya paguyuban sendiri. Setiap anggota paguyuban punya Kartu Tanda Anggota. “Tiyang sadeyan neng mriki nggeh wonten kartu anggotane, Mbak. Niki malah bar ganti kartu sing anyar.”, kata Pak Slamet, penjual buku di seberang samping Ramayana. Kartu ini cukup ampuh untuk melindungi  area berjualan mereka. Boleh saja jika ada penjual baru yang akan ikut berjualan di sana. Asal jangan berjualan di area yang biasa ditempati pedagang lama. Tidak ada aturan tertulis siapa berjualan di mana. Tidak pernah ada tragedi perebutan lapak antara pedagang lama dan baru. Masing-masing sudah tahu aturan mainnya.

Memang semua yang ditawarkan di pasar pagi Simpang Lima adalah magnet bagi pengunjung. Medan magnetnya bisa sampai ke semua lapisan masyarakat di Semarang. Dari mahasiswa hingga keluarga pun terkena imbasnya. Semua menikmati pesona pasar pagi Simpang Lima. Sensasi berdesak-desakan dan senggol-senggolan dengan pengunjung lain selalu menjadi hal yang dirindukan. Alotnya tawar-menawar barang adalah perjuangan yang menantang sebelum mendapatkan barang yang diincar.

Mengingat begitu besar magnet yang dipancarkan, maka kesemrawutan pasar pagi Simpang Lima harus ditangkap sebagai potensi. Sebagai potensi, tentu saja Simpang Lima harus selalu mempercantik diri dengan berbenah di berbagai sisi. Keamanan, kebersihan, dan ketertiban menjadi syarat kenyamanan yang harus selalu ditingkatkan. Ingat Semarang, ya ingat pasar pagi Simpang Lima. (Sri Pujihastuti)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | 1 Komentar »

“Markir” Demi Keempat Anak

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

MATAHARI di ufuk timur masih bersembunyi. Hawa yang cukup dingin menusuk kulit, ketika Asrori (39) mengendarai sepeda motor lengkap dengan jaket kulit dan topi cokelatnya menuju Simpang Lima. Pagi-pagi sekitar pukul 04.30 itu, ia berangkat dari rumahnya  yang berlokasi di daerah Ketileng. Cukup jauh memang. Lebih kurang tiga puluh menit, ia sudah sampai di lokasi parkiran yang terletak di sebelah selatan alun-alun Simpang Lima tepatnya di depan Kantor Telkom. Sesampai di sana, terlihat olehnya kesebelas teman seprofesi sudah stand by di sekitar Simpang Lima dengan lokasi berbeda untuk melaksanakan tugas mulia. Terlihat juga para pedagang bertumpah ruah menggelar dan menawarkan barang dagangan sejak Sabtu sore.

Pasar Minggu pagi atau biasa disebut pasar pagi memang mewakili kebutuhan masyarakat akan pusat keramaian. Hari Minggu pagi merupakan hari yang sibuk di Simpang Lima. Mungkin hal ini tidak berbeda dengan pasar-pasar kebanyakan, tetapi kemunculannya yang tidak setiap hari membuat keramaian pagi di Simpang Lima tampak eksklusif.

Beruntung pada Minggu pagi itu cukup cerah sehingga tidak turun hujan. Jika hujan biasanya banjir sehingga aktivitas wisata pagi itu pun tidak ada. Memasuki pukul 06.00, suasana terlihat ramai oleh lalu lalang orang. Asrori biasa mangkal sampai pukul 11.00 saat aktivitas di Pasar Pagi selesai. Setelah itu, ia harus menyetor uang ke dinas perhubungan sebesar Rp 30.000,00. Kemudian kembali ke rumah untuk beristirahat siang sehingga sorenya dapat kembali bekerja sebagai petugas parkir di depan Nasi Pecel Mbok Sadon. Pada hari biasa, ia memang mangkal  di depan Nasi Pecel Mbok Sadon mulai pukul 04.00 sampai dini hari. Begitulah aktivitas setiap harinya selain pada hari Minggu.

Sudah dua puluh tahun ia bekerja sebagai petugas parkir di kawasan Simpang Lima tersebut. Ia bekerja demi menghidupi istri dan keempat anak laki-lakinya. Asrori ingin keempat anaknya bersekolah sampai perguruan tinggi agar jangan sampai seperti dirinya. Sungguh mulia cita-cita petugas parkir ini.

Pria yang menjadi tulang punggung keluarga dan memiliki empat orang anak ini tidak selalu mangkal di depan kantor Telkom untuk menjalankan tugasnya sebagai petugas parkir. Akan tetapi, terkadang ia bertukar tempat dengan Nano (24) yang merupakan teman seprofesinya di lokasi berbeda.

Sebagai bentuk profesionalitas dan tanggung jawabnya, jika ada pemarkir kendaraan yang kehilangan helm, ia bersedia untuk menggantinya. “Kalau helmnya bagus, biasanya saya ganti 50 ribu Mbak, tapi kalau helmya biasa 30 ribu Mbak.” Tidak sesuai memang dengan pendapatan yang diterimanya. Asrori menjelaskan bahwa Penghasilan bersihnya khusus tiap hari Minggu berkisar antara Rp 30.000,00 sampai Rp 40.000,00. Padahal tarif parkir bisa empat kali lipat dibanding hari biasa, yakni dari Rp 500,00 menjadi Rp 2000,00.

Selain itu, ia juga harus memberikan rokok kepada polisi yang mangkal di sebelah baratnya sebagai bentuk solidaritas. Bisa dihitung pendapatannya jika harus dibuat mengganti helm yang hilang dan masih dipotong untuk membeli rokok. Meskipun demikian, ia tetap dengan senang hati menjalankan profesi ini.

Pada hari Minggu, petugas parkir di Simpang Lima bisa mencapai dua belas orang.  Bayangkan saja kalau tiap petugas parkir setor ke Dinas Perhubungan sebesar Rp 30.000,00. Jika dihitung total pendapatan dari sektor parkir pada Minggu pagi di Simpang Lima saja bisa mencapai Rp 360.000,00. Itu belum dihitung pada hari-hari biasa apalagi jika ditambahkan setoran di luar kawasan Simpang Lima.

Jadi, dalam satu bulan setorannya bisa mencapai Rp 1440.000,00. Oleh karena itu, pemerintah daerah Kota Semarang harus memperhatikan kesejahteraan para petugas parkir yang telah memberikan sumbangsih yang cukup lumayan bagi pendapatan daerah. Pemda juga harus memikirkan tentang keamanan lokasi parkir agar kerugian tidak hanya ditimpakan pada petugas parkir yang merupakan rakyat kecil. Pemda sebaiknya juga dapat mengembangkan aset wisata Pasar Pagi tersebut menjadi lebih baik untuk membuktikan bahwa Semarang benar-benar Pesona Asia.(Nurul Nitasari)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

Simpanglima [tanpa judul]

Posted by mulaidaria pada Juli 20, 2009

MINGGU pagi, Simpang Lima Semarang ramai dengan pengunjung. Hal itu tampak dari adanya pasar rakyat yang memenuhi bundaran lapangan di sana. Pasar rakyat biasanya dimulai setiap Sabtu sore sampai Minggu pagi pukul 10.00-an WIB. Secara sadar diri ketika menginjak pukul 10.00-an WIB para penjual sudah mengemas-ngemas barang dagangannya untuk dibawa pulang. Meskipun terkadang ada sebagian kecil dari para penjual menunggu untuk diingatkan oleh para petugas setempat dalam mengemasi barang-barang jualannya.

Tidak semua penjual berasal dari Semarang asli. Ada sebagian penjual yang berasal dari luar kota, begitu juga para pengunjungnya. Pengunjung, ada yang secara sengaja memang ingin melihat atau membeli barang-barang yang dijual-belikan di sana. Tetapi, ada juga pengunjung yang tidak secara sengaja berkunjung ke pasar rakyat di Simpang Lima. Mungkin, sewaktu dalam perjalanan dia melihat banyak kerumunan orang yang mengitari bundaran lapangan tersebut, yang banyak orang berjualan pernak-pernik sehingga membuatnya tertarik untuk singgah sebentar di sana.

Setiap ada pasar rakyat, warga masyarakat selalu berbondong-bondong menuju ke Simpang Lima. Agar lebih menyenangkan, para pengunjung biasanya berangkat bersama-sama keluarganya. “Sebenarnya, Pemerintah Daerah Semarang ingin memindahkan pasar rakyat di Simpang Lima ke daerah Tawang.  Namun, para pedagang bersitegas menolak pemindahan tersebut karena mereka sudah merasa nyaman di sana dan tempatnya juga strategis serta penghasil yang di peroleh juga lumayan untuk menambah biaya kehidupannya,” ujar pak Yanto salah seorang penjual kaset bajakan di sana yang juga dianggap sebagai pengkoordinir para penjual lain di wilayah bagian timur Simpang Lima.

Semakin maraknya kaset bajakan yang meraja-lela (menyebar luas)  di Negara Indonesia, membuat para musisi merasa dirugikan. Hasil karya mereka dibajak beribu-ribu keeping kopi yang kemudian dijual secara bebas dengan harga yang relatif murah sehingga kaset asli yang harganya jauh lebih mahal dijauhi oleh para konsumen. Para konsumen lebih senang membeli kaset bajakan meskipun kualitasnya rendah. Hal itu dikarenakan dengan pertimbangan bahwa tiap-tiap tahun, bahkan dalam setahun ada album-album terbaru dari para penyanyi yang sedang naik daun sehingga kaset yang berisi lagu lama bosan dan ingin membeli kaset yang berisi lagu baru dengan uang yang pas-pasan membuat masyarakat lebih senang membeli kaset bajakan.

Di pasar rakyat Simpang Lima, banyak dijumpai penjual kaset bajakan. Para penjual tersebut, menjajakan kaset bajakan secara bebas tanpa ada rasa takut. Dalam berjualan, mereka sudah ada izin (ada laporan) dengan pihak kepolisian yang terkait. Adapun biaya administrasinya sebesar Rp 15.000,00/penjual. Meskipun demikian, para penjual kaset bajakan tersebut tidak menolak karena pendapatan yang mereka peroleh jauh lebih besar dari biaya administrasi yang dibebankan kepada mereka.

Bapak Yanto bertopi merah (47), salah seorang penjual kaset bajakan, bertempat tinggal di Petempet Selatan No. 346, Semarang. Dia mempunyai 4 orang anak. Sudah empat tahun dia berjualan kaset bajakan di Simpang Lima. Sebelumnya, sekitar tahun 1998-2005, dia sudah berjualan  nasi kering di Simpang Lima. Namun, karena dirasa pendapatannya sebagai penjual nasi kering kurang menjanjikan, maka dia berpindah haluan sebagai penjual kaset bajakan yang menurutnya lebih menguntungkan. Sebagai penjual kaset bajakan, setiap minggunya Pat Yanto dapat mengantongi laba bersih berkisar Rp 400.000,00 yang sudah dirasa cukup untuk membiayai kehidupan keluarganya. Karena ketiga orang anaknya sudah berkeluarga, maka hanya tinggal seorang anak  dan istrinya yang masih menjadi tanggung jawabnya.

Dalam penjualan kaset bajakan, Pak Yanto mengeluarkan modal sendiri. Untuk modal awal yang di keluarkan oleh Pak Yanto sekitar dua juta rupiah, sebelum dia menggunakan soundsystem. Namun, sekarang dia sudah menggunakan soundsystem lengkap (televisi, VCD Player, serta sebuah sound) yang dipergunakan untuk mencoba tiap kaset yang ingin dibeli oleh pembeli apakah kualitasnya bagus atau tidak agar dapat membuat pembeli merasa puas jika mengetahui kualitas kaset yang dibelinya. Sehingga jika di jumlah modalnya lebih dari dua juta rupiah. Hal itu tidak seperti yang dilakukan oleh Fery dan Agung, yang juga berprofesi sama seperti Pak Yanto. Fery (22), berasal dari Demak dan Agung (berjemper dengan kepala tertutup)  (26), bertempat tinggal di sekitar Mataram, Semarang. Dalam menjual kaset bajakan, baik Fery maupun Agung mempunyai bos (orang Semarang yang tidak disebutkan namanya), yang memasokkan kaset bajakan kepada mereka.

Dalam penjualan kaset, Pak Yanto dan Agung menjual kaset bajakannya seharga Rp 5.000,00/buah, sedangkan Fery menjual kasetnya dengan harga Rp 2.500,00/buah atau jika membeli Rp 10.000,00, pembeli mendapatkan lima buah kepingan kaset (terkadang kualitas kasetnya ada yang kurang bagus tetapi dapat ditukar dengan kaset yang lain). Dua Minggu sekali, kaset bajakan Fery dan Agung ditukar dengan teman-temannya agar mendapat pasokan kaset bajakan yang baru.

Dalam berjualan kaset bajakan di Simpang Lima tersebut, Agung tidak dapat menyebutkan berapa penghasilan yang diperoleh karena hasilnya tidak tentu. Agung, dalam berjualan kaset bajakan di pasar rakyat Simpang Lima belum ada satu tahun. Sedangkan  Fery sudah kurang lebih dua tahun berjualan di sana. Tiap berjualan di Simpang Lima, Fery dapat menjual kepingan kaset bajakan sekitar 100 buah dengan mengantongi laba bersih kurang lebih Rp 20.000,00. meskipun hal itu tidak tentu.

Tempat berjualan Pak Yanto dan Agung dirasa sangat strategis karena di dekat jalan yang biasa dilewati oleh para pengunjung. Namun, berbeda dengan fery yang berjualan di dalam lapangan sehingga dia harus menggunakan pengeras suara dan sebuah perekam yang digunakan untuk menyiarkan barang dagangannya supaya pembeli tahu dan tertarik untuk membeli. Kata-kata yang diucakan dalam perekam suara tersebut, yaitu sepuluh ribu lima, maksudnya bahwa harga kaset yang dijual Fery itu sepuluh ribu dapat lima buah kaset apa saja, terserah para pembeli dalam memilih kaset kesenangannya.

Kepingan kaset CD yang dijual, baik Pak Yanto, Agung maupun Fery itu kaset yang berisi lagu baru dan lagu lama. Jenis lagu dalam kaset yang dijual mereka, misalnya ada lagu dangdut, pop, barat, mandarin juga ada keroncong. Bagi masyarakat yang ingin membeli kepingan kaset yang hanya berisi suara saja (MP3) atau yang ada video klipnya semuanya tersedia meskipun terkadang tidak sesuai dengan penyanyi aslinya.

Sebenarnya, selain Pak Yanto, Agung, dan Fery masih banyak lagi pedagang kaset bajakan yang berjualan di sana. Mereka bersebaran di bundaran lapangan dengan tempat yang tidak berjauhan antara satu penjual dengan penjual yang lain. Meskipun demikian, jualan mereka tidak ada yang sepi dari pembeli. Ini berarti bahwa pembeli senang membeli kaset bajakan dari pada kaset yang asli. Kualitas kaset bajakan yang dijual mereka sebenarnya tidak jauh berdeda dari kaset yang asli, yang dijual di toko-toko. Hanya saja, mungkin jika sudah diputar berkali-kali kaset bajakan lebih cepat macet dan gambarnya tidak jelas lagi. Lain hal dengan kaset yang asli, meskipun diputar berkali-kali gambarnya tetap masih bagus. Walaupun demikian, pembeli tidak merasa dirugikan. Karena ada pepatah bahwa “Ada Harga, Ada Rupa”, yang berari jika harganya mahal tentu kualitas barangnya bagus. (Wiwik Puji Selviana)

Ditulis dalam LIPUTAN, TUGAS AKHIR | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.