DEMI mencari uang saku tambahan siswa SMK Tarcisius rela berjualan pakaian bekas. Minggu pagi (14/6) siswa menjajakan pakaian layak pakai dijantung pusat kota semarang.
Matahari mulai terik hiruk pikuk keramaian Simpang Lima masih tetap terasa, kondisi tanah yang becek karena hujan semalam tak mengurangi minat para pengunjungnya untuk menginjakan kakinya ditengah-tengah lapangan. Simpang Lima yang berada di jantung kota Semarang menjadi magnet tersendiri bagi warga Semarang dan warga di sekitar Semarang. Selain sebagai tempat untuk berbelanja atau hanya sekedar jalan-jalan, tepat itu juga bisa dijadikan sarana alternatif hiburan keluarga.
Berbagai jenis barang maupun makan tersedia di Simpang Lima, tak terkecuali barang-barang bekas mulai dari kaset hingga pakai bekas dijual di tempat itu. Bila kita menyebut pakian bekas maka Simpang Lima surganya pakaian bekas, hampir semua di bagian tengah lapangan Pancasila adalah para pedagang pakaian bekas, baik pakaian bekas dalam maupun pakaian bekas dari luar negeri luar ada ditempat itu. Harga yang dipatok pedagang pun sangat terjangkau mulai dari harga Rp 1000,00 sampai Rp 20.000,00-an, tergantung kondisi barangnya.
Berdagang pakaian bekas tak semuanya dilakukan seorang yang berprofesi sebagai pedagang, hal ini yang dilakukan oleh para siswa SMK Tarcisius. Untuk menambah uang saku ke Pulau Bali mereka rela bangun pagi hanya untuk menjajakan pakaian bekas di Simpang Lima. Menurut kordinatot penjualan, Wahyu (17) menjelaskan, hasil dari penjualan pakaian semuanya akan masuk dalam kas kelas, sebenarnya untuk biaya ongkos perjalanan ke Bali sudah pada lunas, berjualan hanya untuk tambahan uang saku. Dia mengaku mulai berjualan dari pukul 04.00 WIB, untuk mempersiapkan tempat dan barang-barang yang akan mereka jual. Harga perpotong pakaian tidak telalu mahal, pakaian-pakaian yang dijual di bandrol mulai dari Rp 1000,00-5000,00 perpotong tergantung kondisi barang, “Pakaian-pakaian ini kami dapat dari hasil sumbangan atau hibah dari para guru dan teman-teman, tidak menutup kemungkinan sumbangan dari pihak luar sekolah” jelasnya.
Sudah hampir satu bulan ini , siswa kelas XI AK3 setiap minggu pagi berjualan pakaian layak pakai di Simpang lima, hanya minggu kemarin (7/6) kami libur jualan karena lapangan digunakan acara Satpol PP tutur Deni (17) satu-satunya siswa laki-laki di kelas XI AK3 SMK Tarcisius yang beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso No 49 Semarang.
Sementara itu, Vera (16) salah satu siswa yang turut menjaga barang dagangan mengaku dari hasil jualan pada hari itu mendapat omzet yang lumayan. Dengan menjajakan dan menawarkan pada pembeli Rp 80.000,00 mereka dapatkan dari pagi hingga panas mulai terasa, “Ini salah satu dari usaha kami untuk mendapatkan uang saku tambahan, tanpa harus membebani orang tua”. Selain berjualan ada cara lagi untuk dapat menambah pemasukan uang kas yaitu mengamen, biasa dilakukan oleh teman-teman yang tidak dapat jatah menunggui barang dagangan, imbuhnya.
Berbagai macam cara dilakukan untuk mendapatkan uang, hal inilah yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK Tarcisius yang kreatif dan ulet untuk mencari uang tambahan. Sejauh ini usaha yang dilakukan siswa-siswa tersebut berjalan lancar dan tanpa ada hambatan yang berarti. (Cahyo Indarto)
MATAHARI telah mulai menampakkan sinarnya.. Menghangatkan lapangan Simpang Lima yang telah dipenuhi anak manusia. Dinginnya pagi hampir tak terasa membelai tubuh dikarenakan terlalu banyaknya manusia yang mengunjungi Simpang Lima di pagi itu.
RIUH rendah kemeriahan Pasar Pagi Simpang Lima belum begitu terasa pagi itu, Minggu 24 Mei 2009. Hari masih pagi, jam baru menunjukkan pukul 05.00. Udara pagi masih dingin. Mentari belum sempurna tebarkan sinarnya. Pengunjung pun belum begitu banyak. Akan tetapi lapangan sudah penuh dengan pedagang. Tyas, salah seorang pedagang di pasar tersebut mulai menggelar dagangannya. Bersama ibunya, gadis yang masih duduk di bangku kelas IX SMA ini menata rapi dagangannya. Jarak rumah yang agak jauh, membuatnya berangkat lebih pagi. Sayang, karena sedikit kesiangan, dia tidak mendapatkan tempat yang strategis. Dia dan ibunya tetap semangat, yakin pasti dagangannya bisa terjual semua.
MATAHARI di ufuk timur sudah menampakkan senyum tercerahnya. Lebih dari hangat, tergolong panas untuk ukuran pagi. Sisa hujan semalam sudah tidak tampak lagi. Hanya beberapa tanah di pinggir jalan yang masih agak basah. Tidak terkecuali tanah di bundaran Simpang Lima. Basah, becek, dan terdapat beberapa genangan air di beberapa titik. Jam baru menunjukkan pukul 07.00 WIB. Simpang Lima sudah ramai sekali. Keramaian itu menyebabkan kemacetan jalan di sekitar Simpang Lima. Keramaian dan kelengkapannya menjadi undangan untuk berkunjung ke Simpang Lima pada hari libur. Dari yang punya tujuan sampai yang hanya sekadar membuat kaki pegal. Dari waktu ke waktu, pengunjungnya semakin bertambah. Menurut penjual frame yang sudah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun pun sependapat. “Sekarang sudah beda sama dulu. Tambah rame. Tambah banyak yang ke sini.”, kata Pak Muzadin, seorang penjual frame.